Rabu, 25 Desember 2013

Sebuah Kehormatan Cinta



Sebuah Kehormatan Cinta

Ku berbaring lemas tiada daya denyut nadi pun selalu terengga
Meratapi sebuah ketulusan cinta yang mungkin sulit ku dapat
Membidik sebuah rasa berharap gapai semua cita
Berbekal dengan keberanian membuat matahati tergiur pada logika
Tak tersadar kini ku mencintai pada konsep pandangan saja
Rasa yang mampu mengetar kan separuh jiwa bagaikan kilauan kilat
Membuat ku tak berdaya dan melumpuhkan sebuah firasat
Hinga perasaan ini selalu bertanya
Akankah ada suatu keadilan berpihak padaku
Semuanya tak jelas dan justru membuat ku kebingungan
Kini ku bagaikan lilin di atas piring kecil dalam sebuah meja
Menetes, terbakar, dan akan habis pada ahirnya
Dan menanti angin yang akan memadamkan ku secara perlahan
Sebuah kehoramtan cinta kini ku pegang dengan erat
Demi memperjuangkan sebuah hak yang menjadi milik ku
Aku bertekat walaupun dengan suasana redup
Takan menjadi sebuah halangan untuk bertindak
Karena cinta butuh sebuah perjuangan
Karena nasip adalah tergantung pola jalan kita untuk merubahnya
Tidak ada nasip yang menjadi permanen
Jikalao kita mau bertindak dan mulai merubah nasip itu


Senin, 09 Desember 2013

Pelangi Ku




Pelangi ku 

Malam yang pekat kabut usai menyelimuti kota ini

Gerimis hujan pun terlihat menjauh dari pandangan ku

Sunyi hati termenung duduk  di sebuah teras rumah ini

Sesal sedih kian melambai dan menghampiri ku

Ketika cinta ku di butakan sebuah impian yang tak pasti

Memuja kesetiaan demi mempertahankan mu

Mengukuhkan harapan bakal gapai semua cita

Mencoba Meruntuhkan awan yang bertaburan di langit biru

Mengubah semua jalan yang semestinya aku lewati

Kini aku telah tersesat....

Dalam perjalanan yang mungkin membunuh ku secara perlahan

Di saat jalanku buntu kao malah berselak pergi untuk meningkalkan ku

Pergi memilih untuk  tak pernah lagi mengenal ku

Itu ucapan mu saat terahir kita bertemu

Hati ku hancur seperti kaca yang  jatuh dalam sebuah ketinggian

Berkeping – keping dan kecil untuk dapat terlihat sebuah mata

Mata yang dulu dapat melihat senyum mu kala berbinar

Sekarang tampak sebuah gelap yang membelengu

Hati ini seperti kertas yang terlipat

Takan pernah lagi pena mampu menuliskan sebuah  syair kehidupan

Dengan posisi ku masih ter halang sebuah lipatan tadi

Setiaku menungu akan sebuah keajaiban yang dapat menjawap

Esok hari atau lusa bahagiaku pasti kan ku raih dengan sempurna